Showing posts with label islami. Show all posts
Showing posts with label islami. Show all posts

Siapa yang Lebih Berhak Memberi Nama Anak

Posted by gadhing Property 1 comments
Siapa yang Lebih Berhak Memberi Nama Anak, Ayah atau Ibunya?
Kelahiran anak merupakan anugerah yang sangat berharga bagi pasangan suami istri. Sebuah anugerah yang tak bisa dinilai oleh materi dan uang. Karenanya jauh hari sebelum kelahiran, biasanya, kedua orang tua sudah menyiapkan nama untuknya. Dan tentu sangat menggembirakan jika nama yang dipilih dan disiapkan disepakati keduanya.
Namun tidak bisa dipungkiri dalam satu atau dua kasus terkadang saat sudah tiba untuk memberi nama, tidak ada kesepakan antara ayah dan ibunya. Sehingga terjadi pertengkaran dan saling memaksakan nama yang sudah dipilih oleh masing-masing pihak. Lalu bagaimana jika kondisi seperti ini terjadi, siapa yang lebih berhak memberikan nama untuk anaknya, ayahnya atau ibunya?
Sesungguhnya memberi nama untuk anak yang baru lahir adalah hak ayah dari anak tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Tuhafatul Maudud membuat pasal dengan judul: "Pasal Kelima: Tentang pemberian nama anak adalah hak ayah, bukan ibu." Selanjutnya beliau mengatakan: Ini merupakan sesuatu yang tidak ada pertentangan di antara manusia, apabila kedua orang tua bertentangan pendapat dalam memberikan nama untuk anak, maka ia (hak memberi nama) milik sang ayah. Hadits-hadits yang lalu, semuanya menunjukkan atas hal ini. Hal ini sebagaimana dia nanti akan dinisbatkan kepada ayahnya, bukan kepada ibunya. Maka dikatakan: Fulan bin Fulan. Allah Ta'ala berfirman:

ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ

"Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah." (QS. Al-Ahzab: 5) Seorang anak mengikut pada ibunya dalam (statusnya) merdeka dan budak. Mengikuti bapaknya dalam nasab dan nama. Dalam urusan dien, ia mengikuti di antara keduanya yang terbaik agamanya. Maka memberikan pengetahuan seperti pendidikan, dan akikah adalah itu diserahkan kepada bapak, bukan ibu. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ
"Malam tadi aku dianugerahi seorang bayi laki-laki, segera aku namai ia dengan nama bapakku, yakni Ibrahim." Selesai dari keterangan Ibnul Qayyim.
Kita lihat dari hadits di atas, saat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mendapat anugerah anak laki-laki, maka beliau segera memberi nama untuknya, Ibrahim, tanpa bermusyawarah kepada ibu anak tersebut. "Malam tadi aku dianugerahi seorang bayi laki-laki, segera aku namai ia dengan nama bapakku, yakni Ibrahim." (HR. Mutaafaq 'alaih dari Anas bin Malik)
Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, dari hadits Jabir bin Abdullah al-Anshari Radhiyallahu 'Anhu, bahwa ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang mendapat rizki seorang anak (lahir anaknya), lalu ia membawanya kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata: "Wahai Rasululllah, telah lahir anakku, aku beri nama dia al-Qasim." Dan ia tidak menyebutkan bahwa dia meminta pendapat pada istrinya.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari hadits Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, ada seseorang yang mendapatkan rizki seorang anak. Dia menggendong anaknya dipunggungnya bertolak kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata: "Wahai Rasulullah! Telah terlahir seorang anak untukku, aku beri nama dia Muhammad. . ." dan dia juga tidak menyebutkan telah meminta pendapat kepada istrinya.
Dari keterangan Ibnul Qayyim di atas dan beberapa hadits yang telah disebutkan, dapat kita simpulkan bahwa memberi nama anak adalah hak ayahnya. Maka jika terjadi silang pendapat dan pertentangan tentang nama yang akan disematkan pada anak, yang dipilih oleh ayahnya itulah yang berlaku. Keputusan memberi anak ada pada tangan sang ayah, bukan ibu.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam al-Syarh al-Mumti' mengatakan: "Terkadang terjadi pertentangan antara pendapat ibu dan ayah dalam memberi nama. Maka solusinya adalah pendapat bapak, namun jika mungkin untuk mempertemukan pendapat keduanya dengan memilih nama ketiga yang disepakati keduanya, maka itu lebih baik. Karena setiap kali diperoleh kesepakatan, maka itu lebih baik dan lebih indah untuk panggilan."
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita keturunan-keturunan yang shalih, keistiqamahan, dan melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk melakukan segala yang mendatangkan cinta dan ridha-Nya. Amin. Walahu Ta'ala A'lam.

PurWD/voa-islam.com

[DOA] Adab Memper Oleh Rahmat Allah

Posted by gadhing Property 0 comments
bismillahhiRRahmaniRRahim
"Dan jangan kamu beRputus asa daRi Rahmat Allah. Sesungguhnya tiada beRputus asa daRi Rahmat Allah, melainkan kaum yang kafiR." (Yusuf: 87). 
Rahmat aRtinya kebaikan dan kasih sayang Allah yang dibeRikan kepada hamba-Nya yang disayangi-Nya.
وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ
“Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk dibeRi) Rahmat-Nya “
(Q.S. Al-BaqaRah : 105)
ORang yang dibeRi Rahmat Allah pasti akan selamat dunia dan akhiRat.  FiRman Allah :
وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Adapun ORang-ORang yang putih beRseRi mukanya, maka meReka beRada dalam Rahmat Allah (suRga); meReka kekal di dalamnya.” (Q.S. Ali ImRan : 107) 

DOa MempeROleh Rahmat Allah  Ada banyak dOa memOhOn Rahmat Allah. Di antaRa dOa yang  dianjuRkan Oleh Nabi SAW untuk selalu dibaca adalah dOa beRikut :
اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ “Allahumma bika ashbahnaa, wa bika amsaynaa, wa bika nahyaa, wa bika namuutu wa ilaykan nusyuuRu”

“Ya Allah, dengan Rahmat dan peRtOlOnganMu kami memasuki waktu pagi, dan dengan Rahmat dan peRtOlOnganMu kami memasuki waktu sORe. Dengan Rahmat dan peRtOlOnganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu kebangkitan (bagi semua makhluk).”[HR. At-TiRmidzi 5/466, dan lihat Shahih At-TiRmidzi 3/142]

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمِ: فَتْحَهُ، وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ، وَبَرَكَتَهُ، وَهُدَاهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْهِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ. “Ashbahnaa wa ashbahal mulku lillahi Rabbil ‘aalamiin, allahumma innii as aluka khayRa hadzaal yawm, fat haHu, wa nashRaHu wa  nuuRahu, wa baRakatahu, wa hudaahu, wa a’uudzubika min syaRRi maa fiihi wa syaRRi maa ba’dahu”
”Kami masuk pagi, sedang keRajaan hanya milik Allah, Tuhan seRu sekalian alam. Ya Allah, sesungguhnya aku memOhOn kepadaMu agaR mempeROleh kebaikan, pembuka (Rahmat), peRtOlOngan, cahaya, beRkah dan petunjuk di haRi ini. Aku beRlindung kpadaMu daRi kejelekan apa yang ada di dalamnya dan kejahatan sesudahnya.”
[
HR. Abu Dawud 4/322 seRta Syu’ab dan Abdul QadiR Al-ARnauth dalam Tahqiq Zadul Ma’ad, 2/273.]

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَارْفَعْنِي. “AllahummaghfiRlii waR hamnii waH dinii waj buRnii wa ‘aafinii waR zuqnii waR fa’nii”
“Ya Allah, ampunilah dOsaku, beRilah Rahmat kepadaku, tunjukkanlah aku (ke jalan yang benaR), cukupkanlah aku, selamatkan aku (tubuh sehat dan keluaRga teRhindaR daRi musibah), beRilah aku Rezeki (yang halal) dan angkatlah deRajatku.” [HR. Ashhabus Sunan, kecuali An-Nasai. Lihat Shahih TiRmidzi 1/90 dan Shahih Ibnu Majah 1/148.]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. ”Allahumma innii zhalamtu nafsii zhulman katsiiRaa, wa laa yaghfiRudz dzunuuba illaa anta, fagh fiRlii maghfiRatam min ‘indika waR hamnii innaka antal ghafuuRuR Rahiimu”
“Ya Allah! Sesungguhnya aku banyak menganiaya diRiku, dan tidak ada yang mengampuni dOsa-dOsa kecuali Engkau. Oleh kaRena itu, ampunilah dOsa-dOsaku dan beRilah Rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” [
HR. Al-BukhaRi 8/168 dan Muslim 4/2078]
اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.
“Allahumma Rahmataka aRjuu falaa takilnii ila nafsii thaRfata ‘ayni, wa ashlih lii sya’nii. Kullahu, laa ilaaHa illa anta”
“Ya Allah! Aku menghaRapkan (mendapat) RahmatMu, Oleh kaRena itu, jangan Engkau biaRkan diRiku sekejap mata (tanpa peRtOlOngan atau Rahmat daRiMu). PeRbaikilah seluRuh uRusanku, tiada Tuhan yang beRhak disembah selain Engkau.” [
HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42. MenuRut pendapat Al-Albani, hadits di atas adalah hasan dalam Shahih Abu Dawud 3/959.]
Adab MempeROleh Rahmat Allah
  1. Rahmat hanya akan dibeRikan kepada hamba-hamba-Nya yang dikasihi saja. MeReka itu antaRa lain ORang yang:
    •    BeRiman, beRhijRah dan beRjuang di jalan Allah (Q.S. Al-BaqaRah: 218)
    •    Menjadi ORang muhsin (selalu beRbuat baik pada ORang lain) (Q.S. Al-A’Raf : 56)
    •    BeRtakwa, menunaikan zakat, beRiman kepada ayat-ayat Allah, taat kepada Rasulullah SAW, amaR ma’Ruf nahyi munkaR’ menghaRamkan sesuatu yang haRam (Q.S. Al-A’Raf : 156)
    •    BeRsabaR atas ujian Allah (Q.S. Al-BaqaRah : 155)
  2. MemOhOn ampun dan beRtObat atas dOsa-dOsa yang telah dilakukan (QS.Az-ZumaR:53).
  3. Menjaga salat lima waktu di awal waktu, di masjid dengan beRjamaah.
  4. BeRamal saleh dalam setiap kegiatan.
  5. Selalu menjalin hubungan kepada Allah dan sesama manusia (Q.S. Ali ImRan : 110).
  6. MenghindaRi maksiyat dan dOsa-dOsa.
  7. Selalu ikhlas dalam beRamal.
  8. Istiqamah dalam amal saleh dan kesabaRan.
  9. BeRdOa secaRa khusyu dan istiqamah.
  10. Tidak memakan makanan yang haRam.

al asmaul husna

Posted by gadhing Property 0 comments

Mendidik Anak Secara Islam

Posted by gadhing Property 0 comments

 Menurut perspektif Islam, pendidikan kanak-kanak ialah proses mendidik, mengasuh dan melatih rohani dan jasmani mereka berteraskan nilai-nilai baik yang bersumberkan Al-Quran, Hadis dan pendapat serta pengalaman para ulama. Ia bertujuan melahirkan ” Insan Rabbani” yang beriman, bertakwa dan beramal soleh. 

Falsafah pendidikan sebenarnya menekankan aspek rohani dan jasmani, sesuai dengan kejadian manusia itu sendiri yaang terdiri daripada roh dan jasad. Ianya melibatkan beberapa peringkat, bermula dari dalam kandungan sehinggalah ia lahir dan menjadi dewasa.

 Membentuk Dunia Kanak-kanak.

Sebelum anak-anak dilahirkan, ibubapa menyediakan tempat yang sesuai untuk membesarkan anak dengan sebaik-baiknya. Ini bermakna dunia kanak-kanak setelah dilahirkan ialah rumah ibubapa itu sendiri. Untuk mencapai kesempurnaan hidup kanak-kanak, ibu-bapa perlu membentuk suasana harmoni dan bercirikan keislaman dalam kehidupan rumahtangga terlebih dahulu.
Jika pasangan suami isteri menghayati nilai-nilai keislaman dalam kehidupan rumahtangganya, mudahlah ia mendidik anak-anaknya dengan benih-benih Islam. Sebaliknya, jika pasangan suami isteri gagal menerapkan nilai-nilai Islam dan mengekalkan kerukunan rumahtangga, sukarlah bagi mereka mentarbiyah anak-anak mengikut acuan dan budaya hidup Islam.
Atas itulah Rasulullah S.A.W mengingatkan bakal-bakal suami agar memilih bakal isteri yang mempunyai kesungguhan dan penghayataan agama, bukan kerana paras rupa, keturunan atau harta semata-mata. Sabda Rasulullah yang bermaksud:
“wanita dikahwini kerana empat perkara, iaitu kerana hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama kerana ia menguntungkan kamu(lebih utama)”

Ketika Anak Dalam Kandungan
Proses pendidikan mula berlaku ketika bayi masih berada dalam kandungan ibunya. Pendidikan pada peringkat ini lebih bercorak kerohanian, iaitu:
  1. Bagi ibu-ibu yang mengandung digalakkan supaya memper-banyakkan bacaan Al-Quran terutama surah Yusuf, Mariam, Luqman dan At-Taubah.
  2. Ibu hendaklah sentiasa berdoa kepada Allah S.W.T agar anak yang bakal dilahirkan itu nanti menjadi seorang anak yang soleh, berilmu, beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.
  3. Ibu bapa hendaklah mendapat rezeki daripada sumber yang halal supaya benih yang bakal dilahirkan itu nanti datang daripada darah daging yang halal.
  4. Ibu hendaklah makan makanan yang berzat dan sentiasa menjaga kesihatan tubuh badannya. Kebersihan diri hendaklah diutamakan bagi menjamin kesihatan anak-anak dalam kandungan. Faktor kesihatan amat dititik beratkan oleh Islam sehingga Islam memberikan kelonggaran kepada ibu yang mengandung untuk berbuka puasa sekiranya merasakan puasa itu menjejaskan kesihatan diri dan anaknya.
  5. Ketika mengandung, ibu perlulah menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan yang berlaku kepada dirinya. Pada waktu begini sememangnya keadaan ibu agak berbeza dari waktu – waktu biasa, terutamanya bagi ibu yang bakal melahirkan anak yang pertama. Mungkin selera makannya hilang, perasaan agak terganggu(sensitif) dan hatinya boleh berdebar-debar kerana bayi dalam kandungannya itu adalah sebahagian daripada dirinya. Ketika ini para suami hendaklah lebih memahami keadaan isteri serta memberi dorongan yang kuat kepadanya 
Setelah Anak Dilahirkan

Setelah anak dilahirkan, hendaklah segera diazankan telinga kanannya dan diiqamatkan telinga kirinya.
Abu Rafi meriwayatkan sebuah hadis yang bermaksud:
” Aku melihat sendiri Rasulullah S.A.W mengazankan Hasan B. Ali pada telinganya ketika ia baru dilahirkan oleh Fatimah r.a” (Riwayat Abu Daud dan Termizi)
Sebagai suapan yang pertama, sunat bayi disuapkan dengan manisan seperti madu dan kurma. Abu Musa Al Asyari r.a. dalam sebuah riwayat mengatakan:
“Isteriku melahirkan seorang anak. Bayi itu ku bawa kepada Rasulullah S.A.W.. Baginda menamakannya Ibrahim, kemudiannya disuap dengan buah kurma(yang telah dilumatkan) setelah itu baginda mendoakan keberkatan baginya lalu bayi itu diserahkan kembali kepadaku”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Pada hari ketujuh kelahirannya, ibu bapa disunatkan bersedekah dengan melakukan ibadah aqiqah untuk anaknya. Seekor kambing bagi anak perempuan dan dua ekor kambing bagi anak lelaki. Rambutnya pula sunat dicukur keseluruhannya supaya kepalanya bersih, otaknya cergas dan rambut barunya tumbuh dengan subur dan sihat.
Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud:
“Setiap anak yang baru dilahirkan bergantung kepada aqiqahnya. Hendaklah diaqiqahkan dengan menyembelih kambing pada hari ke tujuh, diberi nama pada hari itu dan dicukur kepalanya”. ( Riwayat Abu Daud, Termizi dan Nasa)
Bagi ibu yang menyusukan anak, ia perlu makan makanan yang halal, bersih, dan berzat. Ketika menyusukan anak, hatinya hendaklah selalu mendoakan kejayaan anaknya. Ketika hendak tidur, dodoikan (lagukan) dengan kalimah memuji Allah dan Rasulnya seperti nasyid dan sebagainya.
Apabila anak sudah mulai pandai bercakap, hendaklah membiasakannya dengan percakapan yang baik-baik seperti selawat, zikir dan lain-lain perkataan yang seumpamanya.

Umur antara 5 hingga 7 tahun.

Pada peringkat umur antara 5-7 tahun, memerlukan teknik pendidikan yang lebih luas dan menyeluruh. Pengisian antara keperluan rohani dan jasmani perlu didedahkan serentak dan diseimbangkan. Teknik pembelajaran dan pengajaran perlu menggunakan kaedah yang sesuai kerana kanak-kanak biasanya akan belajar(mengikut) berdasarkan pemerhatian iaitu apa yang dilakukan oleh individu disekelilingnya terutama ahli keluarganya.
Menurut pandangan Islam, pada peringkat ini anak-anak wajar didedahkan dengan latihan menulis, membaca, mengira dan berbahasa. Pendidikan yang wajar didedahkan pada peringkat ini ialah bab ibadah dan akhlak. Misalnya kanak-kanak yang baru meningkat umur mumayyiz hendaklah dilatih mendirikan sembahyang. Seterusnya adab-adab yang mulia hendaklah mula diterapkan dalam bentuk latihan amali seperti:
  1. Mendidik anak supaya taat dan beradab kepada kedua ibubapanya; timbulkan kesedaran kepada mereka bahawa pengorbanan ibubapa terhadapnya adalah amat besar dan mereka perlu bersyukur kerana menjadi anak yang masih mempunyai kedua ibubapa. Ini dapat mengeratkan hubungan mesra, rasa kasih sayang antara ahli keluarga.
  2. Mengajar anak supaya taat dan beradab kepada guru dan orang yang lebih tua daripadanya; guru merupakan orang yang bertanggungjawab mendidik dan menyampaikan ilmu manakala orang yang lebih tua adalah orang yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan daripadanya.
  3. Mengajar anak bercakap atau bergaul dengan baik; anak-anak hendaklah dilatih bercakap benar, sopan santun dan mengucapkan perkataan yaang baik-baik. Kanak-kanak biasanya begitu sensitif dengan pendengarannya, ia mudah terikut-ikut dengan apa yang didengarnya. Sebab itu jika ibubapa mahu menegur atau memarahi mereka, hendaklah menggunakan bahasa yang paling sopan bukannya dengan bahasa yang kesat, kasar dan keras.
  4. Mengajar anak-anak adab bergaul dengan rakan-rakan; anak-anak harus dinasihatkan agar tidak berbangga atau meninggi diri di hadapan rakan sebayanya, jangan sekali-kali menyakiti atau mengambil hak orang lain .
  5. Mengajar anak adab makan minum yang baik; sifat atau sikap yang tidak sopan seperti gelojoh ketika makan hendaklah ditegah, sebaliknya anak-anak dilatih dulu dengan adab-adab makan seperti mencuci tangan, duduk dengan sopan serta berdoa sebelum dan sesudah makan.
  6. Mengajar anak adab berpakaian; pakaian yang dipilih hendaklah menutup aurat dan bukan untuk menunjuk-nunjuk kepada orang lain.
  7. Mengajar adab dan bangun daripada tidur; sebaiknya hendaklah mengadap qiblat, membersihkan diri sebelum dan selepas bangun daripada tidur.
  8. Mengajar anak adab masuk dan keluar tandas, anak-anak perlu diajar cara membuang air kecil/besar dan cara masuk ke dalam tandas seperti membaca doa, menutup kepala,membelakangkan qiblat dan sebagainya.
Anak-anak merupakan amanah Allah yang perlu dididik dengan sebaiknya sejak ia kecil lagi supaya apabila besar kelak menjadi anak yang soleh dan sentiasa taat kepada kedua ibubapanya. Mereka ibarat kain putih dan ibubapa lah yang berperanan mencorak dan melukiskannya dengan warna-warna menarik yang menjadi amalan dan cara hidup Islam.

Kesempurnaan Hidup Bukan dari Materi

Posted by gadhing Property 0 comments
Kesempurnaan hidup setiap manusia sesungguhnya tidak didasarkan pada penguasaan atas materi atau hal-hal kebendaan. Hanya pada kondisi kemampuan melepaskan diri dari ikatan kebendaanlah, maka harkat, martabat, dan derajat kemanusiaan dapat ditingkatkan.
Kondisi semacam itu pada konteks kekinian mendahului proses pencapaian keadaan yang disebut manunggaling kawula lan Gusti. “Pada gilirannya, meningkat pula keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan seluruh bangsa,” kata ahli dan konsultan bahasa, sastra, dan budaya Jawa Kuno, Budya Pradipta, dalam makalahnya “Manunggaling Kawula Gusti menurut Serat Wirid Hidayat Jati dan Pengembangannya dalam Kenyataan Hidup Sekarang”, salah satu makalah yang diseminarkan dalam Pantheisme-Manunggaling Kawula lan Gusti dalam Naskah Nusantara di Auditorium Perpustakaan Nasional Jakarta, Kamis (6/9).
Menurut dia, kondisi yang manunggal dapat dicapai ketika seseorang masih hidup. Manunggal dalam arti kehendak manusia dengan karsa Tuhan. Kondisi itu merupakan ciri kualitas tinggi manusia. Sebaliknya, pada tingkatan kualitas manusia yang terendah, perilakunya di antaranya masih diliputi keserakahan, menang sendiri, pendendam, dan tidak jujur. “Seseorang yang dapat manunggal hidupnya dibimbing sukma sehingga bahagia lahir dan batin,” katanya.
Secara khusus, para peserta seminar dua hari mempertanyakan kaitan bencana silih berganti akhir-akhir ini dengan kehidupan warganya. Sebagian menarik kesimpulan bahwa hal itu disebabkan oleh perilaku pejabat dan masyarakat yang tidak manunggal dengan kehendak Tuhan. Pertanyaan lain, keterkaitan kondisi manunggal yang juga merupakan kesadaran keilahian apakah menjamin kondisi masyarakat adil makmur.
Ahli Jawa Kuna yang juga rohaniwan pada Pusat Spiritualitas Giri Sonta Ungaran, Kuntara Wiryamartana, mengatakan, baik tidaknya kondisi suatu komunitas tergantung dari jumlah individu yang memiliki nilai hidup yang baik. “Dalam hal ini, kuantitas menentukan kualitas.”
Faktanya, tidak banyak orang yang memiliki kualitas hidup semacam itu. Perlu waktu dan sejarah panjang untuk mengembangkan nilai hidup yang baik dari tingkat individu menjadi nilai bangsa. “Harus ada saling gesek untuk menularkan. Soalnya, dari keluarga saja belum tentu nilai-nilai yang baik milik orangtuanya secara otomatis tertular ke anak-anaknya,” kata mantan dosen Universitas Gadjah Mada dan Sanata Dharma Yogyakarta itu.
Pada paparan sehari sebelumnya, Ketua Dewan Sesepuh Sangha Theravada Indonesia Bhikku Dhammasubho Mahathera memprihatinkan runtuhnya nilai-nilai hidup berketuhanan. Harga materi ditempatkan di atas harga diri; harga diri jatuh sambil disorot kamera televisi tidak dianggap risi, demi materi yang dianggap lebih tinggi.
Menurut dia, masyarakat berketuhanan sejati adalah yang tidak ada pemerasan kelas oleh kelas. Masyarakat yang mencapai manunggaling kawula lan Gusti tidak lagi berkembang di dalamnya pemerasan manusia oleh manusia. (GSA)

Sumber: Kompas, Jumat, 7 September 2007

Sasty

 

gadhing property Template by Ayah Bojonegoro | 2012